DNA Membangun Tubuh, Otak Membangun Diri Kita
Bagaimana sebenarnya tubuh manusia menyimpan informasi?
Sebagian besar orang mungkin akan langsung menjawab, “di DNA.” Jawaban itu benar. Tetapi ternyata baru setengah dari ceritanya.
Hampir setiap sel di dalam tubuh kita membawa salinan DNA yang sama. Bayangkan DNA sebagai sebuah buku petunjuk yang sangat lengkap untuk membangun manusia. Sel kulit, sel hati, sel otot, bahkan sel saraf membawa “buku” yang identik. Yang membedakan mereka bukan isi bukunya, melainkan bagian mana yang dibaca. Itulah sebabnya satu sel berkembang menjadi otot, sementara sel lain menjadi neuron.
Sampai di sini, semuanya masih terdengar cukup masuk akal.
Namun, ketika kita berbicara tentang otak, ceritanya berubah.
Otak manusia diperkirakan terdiri atas sekitar 86 miliar neuron. Yang membuat angka ini luar biasa bukan hanya jumlahnya, tetapi cara mereka saling terhubung. Setiap neuron dapat membentuk ribuan sambungan dengan neuron lain. Jika semuanya dihitung, jumlahnya mencapai ratusan triliun sinapsis.
Sulit membayangkannya.
Coba bayangkan sebuah kota dengan 86 miliar penduduk. Sekarang bayangkan setiap orang memiliki ribuan jalur komunikasi dengan orang lain, dan seluruh jaringan komunikasi itu berubah setiap detik, siang dan malam, sepanjang hidup Anda.
Gambaran itu masih jauh lebih sederhana daripada apa yang sedang terjadi di dalam kepala Anda saat membaca kalimat ini.
Di sinilah saya merasa kita sedang melihat salah satu keajaiban terbesar dalam biologi.
DNA menyimpan informasi yang kita warisi sejak lahir. Sebaliknya, otak menyimpan pengalaman hidup kita. Bukan dalam bentuk huruf-huruf seperti DNA, melainkan melalui pola hubungan antarneuron yang terus berubah.
Setiap kali kita belajar bersepeda, menghafal lagu, mengenali wajah seorang sahabat, jatuh cinta, kehilangan orang yang kita kasihi, atau sekadar menemukan ide baru dari sebuah buku, jaringan di dalam otak ikut berubah. Ada sambungan yang menguat, ada yang melemah, bahkan ada yang terbentuk untuk pertama kalinya.
Setiap kenangan yang kita miliki adalah jejak kecil dari perubahan-perubahan itu.
Para ilmuwan masih terus berusaha memahami bagaimana memori benar-benar bekerja. Yang semakin jelas adalah bahwa ingatan bukanlah sesuatu yang disimpan di satu “laci” tertentu di dalam otak. Sebaliknya, ia muncul dari kerja sama miliaran neuron yang saling berkomunikasi. Yang penting bukan hanya sel-selnya, tetapi hubungan di antara sel-sel itu.
Barangkali, di sinilah letak perbedaan terbesar antara DNA dan otak.
DNA membangun tubuh kita.
Tetapi pengalaman yang mengubah jejaring otaklah yang perlahan membangun diri kita.
Yang menarik, kedua sistem ini tidak pernah bekerja sendiri.
DNA membangun neuron. Neuron membentuk jaringan. Jaringan memungkinkan kita belajar dari dunia. Lalu pengalaman yang kita peroleh dapat memengaruhi aktivitas gen di dalam neuron, membantu memperkuat atau mengubah sambungan antarsel. Apa yang kita warisi dan apa yang kita alami terus berdialog sepanjang hidup.
Ada pelajaran yang lebih luas di sini.
Internet menjadi luar biasa bukan karena satu komputer yang paling canggih, melainkan karena jutaan komputer saling terhubung. Sebuah keluarga pun demikian. Sebuah keluarga bukan sekadar kumpulan orang, tetapi kumpulan hubungan. Ketika hubungan itu berubah, keluarga ikut berubah, meskipun orang-orangnya tetap sama.
Mungkin alam memang bekerja dengan prinsip yang serupa. Pada sistem yang sederhana, informasi dapat disimpan di dalam suatu objek, seperti DNA. Namun pada sistem yang kompleks, informasi justru muncul dari hubungan antarbagian.
Konsekuensinya sangat menarik.
Anak-anak kita tidak mewarisi pengetahuan kita. Mereka tidak lahir dengan kemampuan memainkan piano, berbicara dalam beberapa bahasa, atau memahami matematika hanya karena orang tuanya mampu melakukannya. Yang mereka warisi adalah DNA—sebuah cetak biru yang luar biasa. Adapun pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kebijaksanaan harus dibangun sendiri, sedikit demi sedikit, melalui pengalaman yang membentuk jejaring otaknya.
Mungkin itulah sebabnya tidak ada dua manusia yang benar-benar sama.
Kita memang lahir membawa kumpulan informasi yang diwariskan oleh orang tua kita. Namun sejak napas pertama, kita mulai menulis kumpulan informasi yang kedua. Bukan lagi dengan huruf-huruf DNA, melainkan melalui setiap pengalaman, setiap kegagalan, setiap pelajaran, setiap orang yang kita temui, dan setiap kenangan yang kita simpan.
DNA membangun tubuh kita.
Tetapi jejaring otaklah yang, hari demi hari, membangun diri kita.