Kelak, Hari Ini Akan Menjadi Kenangan
Ada sebuah tulisan singkat yang melintas di linimasa saya. Isinya sederhana: jika hari ini kita masih memiliki anak-anak yang kecil dan orang tua yang masih sehat, jangan lupa menikmatinya. Sebab tanpa benar-benar kita sadari, anak-anak akan tumbuh dewasa lalu pergi mengejar hidup mereka sendiri. Orang tua yang dulu tampak begitu kuat perlahan mulai menua, jatuh sakit, lalu pada waktunya berpamitan.
Tulisan itu membuat saya diam cukup lama.
Saya teringat perjalanan hidup saya sendiri. Banyak masa yang dulu terasa biasa saja, ternyata sekarang justru menjadi kenangan yang sangat saya rindukan. Ada tawa yang dulu dianggap hal sehari-hari, ternyata kini hanya tersisa dalam ingatan. Ada kebersamaan yang dulu terasa akan berlangsung selamanya, ternyata berakhir tanpa pernah memberi tanda.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, bagaimana seharusnya saya menjalani hari ini?
Jawabannya mungkin sederhana: bersyukur. Bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi dalam setiap musim kehidupan. Sebab saya percaya, apa pun yang sedang kita jalani sekarang—kegembiraan maupun kesusahan—suatu saat pasti akan berlalu.
Barangkali beberapa tahun dari sekarang, saya akan menoleh ke belakang dan mengenang hari ini. Mungkin saya akan tersenyum, mungkin juga menitikkan air mata. Namun satu hal yang saya harapkan, saya tidak perlu berkata, “Seandainya dulu aku lebih menghargai saat-saat itu.”
Hidup ternyata bukan hanya tentang mengejar masa depan. Hidup juga tentang menyadari bahwa hari ini sedang berubah menjadi kenangan.
Karena itu saya ingin belajar hadir sepenuhnya. Menikmati percakapan dengan orang tua selama masih ada kesempatan. Memeluk anak selagi mereka masih ingin dipeluk. Menjalani pekerjaan dengan setia, bahkan ketika terasa berat. Dan ketika hidup sedang tidak mudah, saya ingin tetap mengingat: suatu hari nanti, masa ini pun akan menjadi bagian dari cerita yang membentuk siapa saya.
Mungkin itulah arti syukur yang sesungguhnya—menerima setiap musim kehidupan dengan hati yang terbuka, karena semuanya sedang mempersiapkan sebuah kenangan.