Pandangan John Calvin tentang Perceraian
John Calvin memiliki pandangan yang cukup ketat mengenai perceraian, tetapi ia mengakui bahwa ada situasi tertentu yang dapat membenarkannya. Dalam tafsirannya terhadap Alkitab, terutama dalam Institutes of the Christian Religion dan tafsirannya atas Injil Matius, Calvin menyatakan bahwa:
- Perceraian tidak ideal – Calvin sangat menekankan bahwa pernikahan adalah institusi yang ditetapkan oleh Allah dan harus dijaga sebaik mungkin. Ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang seharusnya dihindari, kecuali dalam kondisi tertentu.
- Alasan perceraian yang sah – Calvin menerima bahwa ada alasan alkitabiah untuk perceraian, terutama dalam kasus zina (Matius 5:32, 19:9). Ia menganggap bahwa perzinahan menghancurkan esensi dari pernikahan dan memberikan alasan yang sah bagi pihak yang tidak bersalah untuk mengakhiri pernikahan.
- Penelantaran dan kekerasan dalam rumah tangga – Selain perzinahan, Calvin juga menyinggung kemungkinan perceraian dalam kasus penelantaran ekstrem atau kekerasan yang mengancam kehidupan pasangan. Dalam komentarnya atas 1 Korintus 7:15, ia mendukung gagasan bahwa jika seorang pasangan yang tidak percaya meninggalkan pasangannya yang percaya, maka yang ditinggalkan tidak lagi terikat.
- Pernikahan kembali setelah perceraian – Calvin tidak secara eksplisit menentang pernikahan kembali bagi orang yang telah bercerai dengan alasan yang sah, tetapi ia juga tidak terlalu mendorongnya. Ia percaya bahwa gereja harus berhati-hati dalam hal ini dan mempertimbangkan keadaan masing-masing individu.
Secara keseluruhan, Calvin memandang perceraian sebagai sesuatu yang tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, tetapi ia juga mengakui bahwa dalam kasus tertentu, perceraian dapat dibenarkan menurut prinsip-prinsip Alkitab.