Sistem Baru, Masalah Baru

Sistem Baru, Masalah Baru

June 16, 2025 Books Critical Thinking Leadership Management 0
Sistem Baru, Masalah Baru

Di dunia yang serba kompleks ini, setiap kali kita menghadapi masalah, respons spontan kita sering kali adalah: “Mari kita buat sistemnya.” Rasanya wajar. Sistem memberi kesan teratur, profesional, dan efisien. Tapi apa iya?

John Gall, dalam bukunya yang jenaka dan tajam Systemantics: How Systems Work and Especially How They Fail, membuka dengan pernyataan sederhana namun menggelitik:

“New systems mean new problems.”

Bagi Gall, ini bukan sekadar komentar sinis. Ini adalah hukum alam: sistem baru tidak hanya membawa solusi, tapi juga menciptakan masalah-masalah barunya sendiri—masalah yang seringkali tidak kita duga di awal.

Ilustrasi: Sistem Sampah yang Tak Sesederhana Namanya

Bayangkan sebuah desa kecil. Dahulu, setiap keluarga membuang sampah ke kebun belakang atau membakarnya. Sederhana, meskipun tidak ideal.

Lalu datang niat baik: membuat sistem pengelolaan sampah yang lebih tertib. Dibentuklah dinas kebersihan, dibeli truk sampah, disusun jadwal pengangkutan, dan ditetapkan tempat pembuangan akhir.

Pada titik ini, satu masalah diselesaikan—tapi muncul berlapis-lapis masalah baru:

  • Truk butuh bahan bakar dan perawatan.
  • Jadwal angkut harus akurat, dan keterlambatan menyebabkan tumpukan.
  • TPA menimbulkan bau, polusi, dan konflik dengan warga sekitar.
  • Sistem retribusi harus diterapkan, lalu ada warga yang protes.
  • Dan ketika sistem gagal, orang tidak tahu harus berbuat apa.

Solusi awalnya baik. Tapi sistem itu kini menjadi entitas baru yang hidup sendiri—dengan struktur, proses, kebutuhan, bahkan permasalahan yang tak kalah pelik dari masalah awal yang hendak diselesaikannya.

Inilah esensi dari “new systems mean new problems”.

Mengapa Sistem Cenderung Menciptakan Masalah?

Ada dua alasan utama:

  1. Sistem Mengubah Lingkungan Kerja Menjadi Lingkungan Baru
    Sistem bukan sekadar alat. Ia menciptakan cara berpikir baru, aturan baru, dan struktur baru. Begitu sistem lahir, kita tidak lagi berada di dunia lama. Kita masuk ke dunia sistem itu sendiri, lengkap dengan segala dinamikanya.
  2. Sistem Cenderung Bertumbuh dan Menjadi Kompleks
    Gall mencatat bahwa sistem yang berhasil akan cenderung ditambahkan fitur, modul, atau prosedur baru. Semakin kompleks, semakin banyak celah untuk gagal. Dan kegagalan sistem besar berdampak lebih luas daripada sistem kecil.

“A complex system that works is invariably found to have evolved from a simple system that worked.”
— John Gall

Poinnya jelas: kita tidak bisa langsung menciptakan sistem besar yang berjalan sempurna. Kita harus memulainya dari versi sederhana—yang bisa diuji, dimengerti, dan disesuaikan. Jika tidak, kemungkinan besar sistem akan tumbang di tahap awal.

Kita Semua Pernah Mengalaminya

Siapa pun yang pernah mencoba “menyederhanakan hidup” lewat sistem pasti pernah kecewa.

Contohnya:

  • Membuat to-do list digital, lalu kewalahan dengan notifikasi dan tumpukan tugas yang tak sempat diselesaikan.
  • Menggunakan aplikasi keuangan otomatis, tapi justru bingung dengan laporan yang terlalu teknis.
  • Atau bahkan hanya mencoba pakai sistem antrean digital di restoran—lalu malah terjebak karena sinyal buruk atau error aplikasi.

Sistem yang dimaksudkan untuk memudahkan justru kadang menambah stres. Bukan karena sistemnya buruk, tapi karena masalah baru muncul bersamaan dengan hadirnya sistem itu sendiri.

Refleksi John Gall: Humor yang Serius

Buku Systemantics penuh dengan hukum-hukum “aneh tapi nyata” seputar sistem, seperti:

  • “Sistem akan tetap berjalan bahkan jika tidak lagi dibutuhkan.”
  • “Setiap kali sistem gagal, solusi pertama yang dicari adalah… membuat sistem baru.”
  • “Masalah yang tidak ada sebelum sistem ada, akan jadi masalah utama setelah sistem dibangun.”

Lucu? Ya. Tapi juga menyakitkan karena sering terjadi di dunia nyata.

Misalnya, kita mendirikan sistem administrasi untuk mempercepat layanan, tapi setelah berjalan, sebagian besar waktu justru habis untuk mengurus sistem itu sendiri: login yang bermasalah, server yang lambat, atau prosedur yang makin panjang.

Sistem menggantikan masalah nyata dengan masalah administratif. Dan sering kali, solusinya bukan memperbaiki sistem yang ada, tapi… membuat sistem baru. Dan siklus itu pun berulang.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita tidak bisa menghindari sistem. Tapi kita bisa lebih bijak dalam membangunnya. Beberapa prinsip yang bisa dipetik dari Gall antara lain:

  1. Mulai dari versi paling sederhana yang mungkin
    Jangan terburu-buru membangun sistem besar. Cobalah versi minimal dulu. Amati bagaimana sistem itu berinteraksi dengan penggunanya.
  2. Uji terus, adaptasi cepat
    Sistem yang baik bukan yang sempurna sejak awal, tapi yang bisa berkembang dari umpan balik nyata.
  3. Sadari bahwa sistem akan gagal
    Maka, selalu sediakan cara darurat, jalur manual, atau opsi cadangan. Jangan sampai seluruh alur hidup tergantung pada sistem yang bisa rusak kapan saja.
  4. Evaluasi ulang secara berkala
    Tanyakan: apakah sistem ini masih melayani tujuannya, atau sudah berubah menjadi beban?

Penutup: Bijak dalam Membangun

Pada akhirnya, membangun sistem bukan hanya soal teknologi, alur kerja, atau efisiensi. Ini adalah soal kesadaran: bahwa setiap sistem akan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berpikir.

John Gall tidak menyuruh kita berhenti membangun sistem. Tapi ia mengingatkan: sistem bukan hanya alat untuk menyelesaikan masalah, tapi juga sumber masalah baru.

Jadi lain kali Anda atau tim Anda berkata, “Mari kita buat sistemnya,” cobalah berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah kita betul-betul butuh sistem baru?
Atau kita hanya ingin merasa seperti sedang mengendalikan sesuatu?

Karena pada akhirnya, sistem terbaik bukan yang paling canggih, tapi yang cukup sederhana untuk menyelesaikan masalah, tanpa menciptakan terlalu banyak masalah baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *