The Emperor of All Maladies: Omnis Cellula E Cellula

Reading Notes Series: The Emperor of All Maladies
Pendahuluan
Penyakit kanker telah menjadi salah satu tantangan medis terbesar sepanjang sejarah manusia. Buku The Emperor of All Maladies karya Siddhartha Mukherjee mengupas tuntas tentang kanker, termasuk asal-usul pemahaman kita tentang penyakit ini. Salah satu bab penting dalam sejarah kanker adalah penemuan leukemia, sebuah bentuk kanker darah. Dari sinilah, kita belajar bagaimana kanker diidentifikasi dan dipahami melalui perkembangan teori sel dalam biologi.
Awal Penemuan Leukemia
Tahun 1845, seorang dokter asal Skotlandia bernama John Bennet mencatat kasus unik yang mengubah pandangan dunia tentang kanker. Pasiennya adalah seorang tukang batu berusia 28 tahun yang datang dengan keluhan pembengkakan di sisi kiri perut. Pembengkakan ini terus membesar hingga menjadi tumor yang menonjol. Dalam waktu sekitar empat bulan, pasien itu mengalami pembengkakan di beberapa bagian tubuh lainnya, seperti ketiak, pangkal paha, dan leher.
Tak lama kemudian, pasien meninggal dunia. Saat melakukan otopsi, Bennet menemukan sesuatu yang tidak biasa: darah pasien penuh dengan sel darah putih (bahan utama nanah). Dalam pandangan medis saat itu, nanah biasanya dikaitkan dengan infeksi. Namun, yang membingungkan Bennet adalah bahwa tubuh pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi seperti luka atau abses. Karena tidak memiliki jawaban pasti, Bennet menyebut kondisi tersebut sebagai “bernanahnya darah.”
Penelitian Rudolf Virchow: Mencari Kebenaran
Beberapa tahun kemudian, seorang dokter Jerman bernama Rudolf Virchow menemukan kasus serupa. Namun, Virchow skeptis terhadap teori “bernanahnya darah” yang dikemukakan Bennet. Sebagai ilmuwan yang dikenal sangat teliti, Virchow tidak berhenti mencari jawaban yang lebih logis dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Pada tahun 1847, Virchow memberi nama kondisi ini Leukemia, berasal dari kata Yunani leukos, yang berarti “putih.” Nama ini merujuk pada keberadaan sel darah putih abnormal dalam jumlah besar pada darah pasien.
Teori Sel dan Dasar Pemahaman Tentang Kanker
Penemuan Virchow tentang leukemia tidak hanya berhenti pada penamaan penyakit. Ia juga menggali lebih jauh hingga mengemukakan teori sel yang menjadi dasar biologi modern.
- Tubuh manusia terbentuk dari sel-sel.
Setiap bagian tubuh, baik itu kulit, otot, atau organ, tersusun dari sel sebagai unit dasar kehidupan. - Semua sel berasal dari sel lainnya.
Ini adalah prinsip omnis cellula e cellula, yang berarti bahwa setiap sel muncul dari pembelahan sel lain. Tidak ada sel yang muncul begitu saja.
Teori ini membawa konsekuensi besar pada cara kita memahami pertumbuhan dan perkembangan sel. Menurut Virchow, sel hanya bisa tumbuh melalui dua cara:
- Hiperplasia: Bertambahnya jumlah sel melalui pembelahan.
- Hiperplasia Fisiologis:
- Kelenjar susu selama kehamilan dan menyusui: Sel-sel epitel kelenjar susu mengalami hiperplasia sebagai respons terhadap hormon seperti estrogen dan progesteron untuk meningkatkan produksi susu.
- Hiperplasia endometrium: Pada fase proliferatif siklus menstruasi, lapisan endometrium mengalami hiperplasia untuk mempersiapkan implantasi embrio.
- Hiperplasia Patologis:
- Hiperplasia prostat jinak (BPH): Sel-sel kelenjar prostat meningkat jumlahnya akibat stimulasi androgen, yang dapat menyebabkan gejala saluran kemih pada pria lanjut usia.
- Hiperplasia Fisiologis:
- Hipertrofi: Bertambahnya ukuran sel tanpa adanya pembelahan.
- Hipertrofi Fisiologis:
- Hipertrofi otot rangka pada atlet: Sel-sel otot mengalami hipertrofi sebagai respons terhadap latihan beban atau aktivitas fisik yang intens.
- Hipertrofi uterus selama kehamilan: Sel-sel otot polos uterus membesar karena stimulasi hormon estrogen dan progesteron.
- Hipertrofi Patologis:
- Hipertrofi ventrikel kiri: Terjadi pada jantung akibat tekanan darah tinggi (hipertensi) atau stenosis aorta, di mana otot jantung membesar untuk mengatasi peningkatan beban kerja.
- Hipertrofi Fisiologis:
Kanker: Hiperplasia yang Tidak Terkendali
Berdasarkan teorinya, Virchow menyimpulkan bahwa kanker adalah hasil dari hiperplasia patologis. Artinya, sel-sel kanker memiliki kemampuan untuk membelah diri tanpa terkendali. Pembelahan sel yang menyimpang ini menghasilkan massa jaringan abnormal yang dikenal sebagai tumor.
Yang membuat kanker lebih berbahaya adalah kemampuannya untuk menyebar ke bagian tubuh lain melalui proses yang disebut metastasis. Sel-sel kanker dapat meninggalkan tumor asalnya, bergerak melalui aliran darah atau sistem limfatik, dan membentuk tumor baru di tempat lain. Inilah sebabnya kanker sering kali menjadi lebih sulit diobati jika telah mencapai tahap metastasis.
Kanker dalam Berbagai Bentuk
Meski leukemia adalah salah satu bentuk kanker, penyakit ini hadir dalam banyak jenis, seperti:
- Kanker payudara
- Kanker lambung
- Kanker kulit
- Kanker leher rahim
- Limfoma
- dan lainnya
Namun, di tingkat sel, semua jenis kanker memiliki sifat dasar yang sama. Semua adalah hiperplasia ekstrem, pertumbuhan sel melalui pembelahan yang tidak terkendali. Dengan kata lain, kanker adalah hasil dari kegagalan sistem biologis yang biasanya menjaga keseimbangan antara pembelahan sel dan kematian sel.
Relevansi Omnis Cellula E Cellula
Prinsip omnis cellula e cellula yang dikemukakan Virchow menjadi dasar untuk memahami kanker secara ilmiah. Ini juga membantu para ilmuwan dan dokter menyadari bahwa upaya melawan kanker harus dimulai dengan memahami mekanisme dasar sel, termasuk:
- Apa yang memicu mutasi genetik yang menyebabkan hiperplasia.
- Bagaimana sel kanker beradaptasi untuk bertahan hidup.
- Cara menghentikan pembelahan sel abnormal tanpa merusak sel sehat.
Kesimpulan
Penemuan leukemia oleh John Bennet dan Rudolf Virchow tidak hanya menandai awal dari studi tentang kanker darah, tetapi juga membuka jalan bagi pemahaman modern tentang kanker secara umum. Teori sel Virchow, terutama konsep omnis cellula e cellula, memberikan kerangka dasar untuk menjelaskan bagaimana kanker berkembang melalui pembelahan sel yang tidak terkendali.